Senin, 15 Juli 2013

Cari Obat Awet Muda, ya ke Jolotundo!

Siapa tak kenal Titik Puspa. Nenek cantik yang awet muda! Apa rahasianya? Saran pakar  gizi: makan buah dan sayur secara teratur. Sayur dan buah organik lebih baik.  Jangan lupa konsumsi vitamin dan mineral. Ada juga yang sarankan perbanyak senyum atau tertawa. Hidup lurus, tidak neko-neko dan ngoyo. Saran  lain: sering minum air putih. Bangun pagi dan olahraga teratur, sangat dianjurkan.
Manfaatkan waktu senggang untuk cari sesuatu yang baru. Jalan-jalan di sekitar rumah atau travelling. Jangan lupa menulis setelah melakukan perjalanan. Travel Writer, menulislah: saran Olive Bendon. Ini juga termasuk obat awet muda.  Tubuh selalu di-refresh. Metabolisme pun lancar.
Nah kalau semua sudah. Apa lagi. Ada… Berkunjung, cuci muka atau  mandi di Patirtaan Jolotundo. Lho kok….
Begitulah. Sebagian masyarakat percaya Air yang keluar dari perut bumi di Patirtaan Jolotundo sangat berkhasiat. Salah satunya bisa membuat awet muda!

1360424576131750720
Patirtaan Jolotunda, Lereng Barat G unung Penanggungan
Patirtaan Jolotundo terletak di Lereng Barat Gunung Penanggungan (1650 m dpl). Gunung kecil ini sangat eksotis. Puncaknya gundul, bulat. Persis seperti kalu anak-anak menggambar gunung. Di lerengnya ada 4 bukit/ gunung kecil.   Gajah Mungkur (1.084 m),  Bekel (1.240 m), Sarahklopo (1.235 m), dan Kemuncup (1.238 m).


13604136991676569593

Dalam kitab Tantu Panggelaran, kitab Jawa Kuno, dari  abad ke-16,  Gunung Penanggungan disebut Pawitra. Nama Pawitra tersurat juga dalam kitabNegarakrtagama dan Prasasti Cungrang/ Prasasti Sukci.
Kitab Tantu Panggelaran mengisahkan, konon saat itu  pulau Jawa (Jawadwipa) selalu bergoncang. Terombang- ambing oleh ombak Samudra India dan Laut Jawa.  Padahal menurut para dewa di kahyangan pulau  Jawa sangat ideal bagi tempat tinggal manusia.  Dewa pun bersidang untuk menghentikan  tanah Jawa yang labil. Beramai-ramai para dewa memindahkan dan menggotong Gunung Mahameru dariJambhudwipa (India) ke Jawadwipa. Terbang di angkasa!

13604246591664775785
Inskripsi "Gempeng" di Patirtaan Jolotundo

Dalam perjalanan, banyak bagian  Gunung Mahameru yang berguguran. Jadilah  rangkaian gunung di Pulau Jawa. Mulai bagian  barat hingga Jawa bagian timur.  Saat digotong ramai-ramai dan sampai di suatu tempat -Lumajang sekarang-  ada seorang yang memukul-mukul bakul (tempat nasi) ke tanah. Akibatnya……..Buumm…. !!!  Jatuhlah tubuh Gunung Mahameru. Menjadi Gunung Sumeru atau Semeru sekarang. Gunung tertinggi di tanah Jawa. Lantaran terlalu tinggi, puncak Mahameru dipotong dan  oleh  para dewa dijatuhkan di daerah perbatasan Mojokerto Pasuruan. Jadilah  Gunung Penanggungan, sebagai The Holy Mountain.

ak heran sejak abad ke-10 keberadaan G. Penanggungan sangat penting bagi masyarakat Jawa Kuno karena dianggap sebagai pusat makrokosmos, pusat alam semseta. Nah, sejak saat itulah di G Penanggungan mulai dibangun bangunan-bangunan suci. Salah satunya Patirtaan Jolotundo (Jalatunda), di lereng barat G. Penanggungan. ( Di Lereng Timur ada  Patirtaan Belahan atau candi Sumber Tetek)
Patirtaan atau pemandian kuna Jolotunda -nama kunonya Jeluktondo-  dibangun sekitar  tahun 977 M. Airnya dianggap amerta (air suci) karena ke luar langsung dari tubuh Mahameru. Konon di puncak gunung ini bersemayam dewa - dewa.

13604141341613878559
Situs ini konon dibangun jaman Raja Airlangga, lantaran terdapat inskripsi UDAYANA di teras pancurannya. patirtaan ini dibangun dengan mengepras  lereng bukit dan “menempelkan” bagian belakang bangunan ke bukit. Bagian tengah patirtaan terdapat teras bertingkat yang mempunyai air mancur yang menyerupai payung. Airnya yang jernih jatuh ke kolam. Bangunan menghadap ke Barat. Di pojok utara dan selatan terdapat bilik tempat mandi. Bilik Utara untuk mandi perempuan dan di selatan bilik untuk laki-laki. Air yang keluar dari pancuran di bilik inilah yang konon sangat berkhasiat
13604155581132554232
Lokasi  Patirtaan di tengah hutan. Pohonnya besar-besar. Rindang. Udaranya segar dan bersih. Airnya jernih. Setelah mandi disini.. …..dijamin  tubuh kembali segar.  Berlama-lama di situs ini dijamin tak akan jenuh. Kicau burung bersahutan. Desau suara angin dan semilirnya membuat sejuk suasana. Pikiran jadi tenang. Hilang stress dan kepenatan.  Inilah obat awet muda yang sesungguhnya!

JoloTundo Trawas



MOJOKERTO - Petirtan Jolotundo menjadi salah satu aset sejarah dan wisata bernilai tinggi yang dimiliki Kabupaten Mojokerto. Banyak misteri dan keunikan situs ini yang masih belum diketahui khalayak. Salah satunya adalah kualitas air petirtan yang konon nomor tiga terbaik dunia.

Situs Candi Jolotundo, atau yang kerap disebut Petirtan Jolotundo, adalah salah satu peninggalan sejarah kerajaan sebelum Majapahit. Situs berupa candi dengan air yang mengalir dari berbagai sudut candi itu dibuat pada tahun 997 Masehi. Zaman Airlangga pada masa kejayaan Kerajaan Kahuripan. 

Konon waktu itu, bangunan berukuran panjang 16,85 meter dengan lebar 13,52 meter dan tinggi 5,2 meter itu menjadi tempat pemandian para petinggi kerajaan. Dalam sejarah disebut, bangunan ini sengaja dibuat Raja Udayana untuk menyambut kelahiran putranya, Prabu Airlangga.

Jika dilihat lebih detail, bangunan yang terbuat dari batu andesit ini memang menampakkan keistimewaan. Pahatan relief yang halus, menandakan jika proses pembuatannya membutuhkan tenaga terampil. Juga bentuk bangunan yang terkesan tidak biasa dengan 52 pancuran airnya. Ke 52 pancuran itu memuntahkan air jernih yang tanpa henti meski musim kemarau tiba. 

Ratusan ikan berbagai jenis, tumbuh liar di kolam bagian bawah. Meski demikian, tak satupun pengunjung yang berani mengambik ikan-ikan itu. Mereka percaya, mengambil ikan di lokasi ini akan berbuntut petaka. Lantaran itu, pengunjung lebih memilih memberi makan ikan dari pada mengambilnya.

Di sisi kiri dan kanan bangunan bagian atas, terdapat dua kolam kecil yang saat ini dimanfaatkan pengunjung untuk mandi dan berendam. Terpisah untuk pengunjung laki-laki dan perempuan, pengunjung tak diperbolehkan untuk mandi menggunakan shampoo dan sabun. Ini untuk menjaga kemurnian air kolam. Juga untuk menjaga ekosistem ikan-ikan yang berada di bagian bawah kolam pemandian.

Berada di lereng gunung Penanggungan, tepatnya di Desa Seloliman, Kecamatan Trawas, lokasi wisata ini terbilang istimewa. Selain bentuk bangunan candi yang memang tak biasa, juga kualitas air yang dimiliki. Dari dua kali penelitian oleh tim arkeolog dari Belanda, kualitas air petirtan Jolotundo ini telah dibuktikan.

"Penelitian tahun 1985, kualitas air di petirtan Jolotundo menduduki rangking 5 dunia," terang Sunaji, juru pelihara yang juga petugas Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Trowulan. 

Penelitian kedua juga dilakukan arkeolog Belanda pada tahun 1991. Hasilnya, kualitas air petirtan Jolotundo menduduki peringkat 3 dunia. Tentu saja hasil itu bukan main-main. Karena ternyata, kandungan mineral air petirtan ini sangat tinggi. Itupun bisa dibuktikan jika kita menyimpan air ini dalam jangka waktu yang lama.

"Pernah kita uji coba dengan menyimpan air ini selama 2 tahun. Bau, warna dan rasanya tak berubah," tambahnya.

Oleh beberapa kalangan, air petirtan Jolotundo tak hanya diyakini memiliki kandungan mineral yang tinggi. Lebih dari itu, sebagian mereka percaya jika ada obat awet muda di dalamnya. Lagi-lagi, karena kayanya kandungan bahan alami dari air yang bersumber dari pegunungan itu. Sunajipun meyakini, karena dari sumber mata air yang berada di dataran tinggi itu terdapat banyak tumbuhan rempah-rempah.

"Air ini telah melalui penyaringan-penyaringan. Tapi memang, banyak tumbuhan rempah-rempah di atas. Sehingga air ini diyakini bisa menjadi obat awet muda," katanya. 

Lokasi seluas 1 hektar ini bukan hanya menjadi tempat wisata sejarah saja. Sebagian orang justru memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat wisata religi. Tak heran pada setiam malam Jumat, akan ada puluhan orang yang memilih berdiam diri di tempat ini hingga pagi. Terlebih malam bulan purnama. Mereka meyakini tempat ini memiliki kelebihan untuk memunculkan berbagai permintaan.

"Paling ramai jika bulan purnama. Banyak yang semedi," tukasnya. 

Sayangnya, keistimewaan Petirtan Jolotundo tak banyak dinikmati banyak orang. Terbukti, dalam sebulan, tempat ini hanya dikunjungi sekitar 1.100 orang. Jumlah yang sangat kecil dibanding pesona yang dimiliki sebuah tempat wisata. Memang, banyak kekurangan di sana-sini sehingga tempat ini masih belum memiliki daya tarik untuk dikunjungi wisatawan.

Salah satunya adalah akses jalan menuju lokasi. Selain sempit, kerusakan jalan juga banyak ditemukan. Khususnya jalur dari Kecamatan Pungging melewati Desa Kesemen. Sehingga, wisatawan yang berasal dari Kota Mojokerto harus memutar melewati Kecamatan Ngoro untuk menghindari kerusakan jalan yang memang dalam kondisi yang parah.

Untuk menuju lokasi, wisatawan juga harus merogoh kocek yang cukup dalam untuk transportasi. Pasalnya, tak ada angkutan umum yang melintas di jalur wisata ini. Bahkan pada malam hari, wisatawan harus rela membayar Rp20 ribu jasa ojek hingga ke lokasi.

"Banyak yang mengeluhkan transportasi," kata Sunaji.

Selain itu, masih belum ada wisata pendukung yang bisa dijadikan wisata alternatif di lokasi itu. salah satunya adalah penjualan suvenir. Satu-satunya kios suvenir yang ada di lokasi itu telah mati. Juga wisata kuliner yang nyaris tak ada di sekitar lokasi. Hanya beberapa warung kecil yang menyediakan makanan dingan. Tak ayal, wisatawan hanya disuguhi pemandangan petirtan, tanpa ada wisata tambahan. 

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Mojokerto, Affandi Abdul Hadi mengakui, memang banyak infrastuktur pendukung yang masih belum tersedia di lokasi ini. Sehingga kata dia, lokasi petirtaan masih sulit dilirik wisatawan.

"Kami sedang menunggu investor agar tempat wisata ini bisa memberikan sajian lebih nantinya," terang Affandi.

Dia juga menyadari kondisi jalan yang rusak menjadi salah satu pemicu sepinya pengunjung. Sejauh ini kata dia, pelebaran jalan masih terkendala dengan pihak lain yang juga memiliki wewenang lokasi tersebut.

"Di sini ada Perhutani dan BP3 yang juga ikut andil. Pihak Perhutani keberatan adanya pelebaran jalan jika harus mengorbankan sejumlah pepohonan. Ini masih kita pikirkan," pungkasnya

Candi Pari

Hm, Berbeda dengan kota tetangganya, Surabaya, ternyata Kabupaten Sidoarjo yang sarat akan bangunan pabrik ini menyimpan banyak sekali peninggalan sejarah era Klasik Indonesia, Candi Pari adalah salah satunya. Candi Pari sendiri berada di Dusun Candi Pari Wetan, Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Bacpacker ke Candi Pari

Tak banyak yang tahu ternyata letak Candi Pari berseberangan dengan Kolam Lumpur Panas Lapindo, bersanding dengan Candi Sumur, Candi Pamotan I dan II serta Candi Wangkal. Jika ditarik garis lurus, Candi Pari hanya berjarak 2,5 Km dari Jalan Raya Porong.

  >  Jika kita berkendara sendiri, maka kita dapat mengarahkan kendaraan kita menuju Kolam Lumpur Panas lapindo. Dari sini kita dapat menanyakan lokasi candi ke penduduk setempat yang sangat mengenal candi ini.

  >  Jika memakai kendaraan umum, maka kita dari arah Surabaya kita dapat naik bus menuju Pandaan atau bus menuju Pasuruan, bilang turun di porong tepatnya di Tugu Kuning. Dari sini kita dapat naik ojek atau becak menuju candi. Jarak yang ditempuh sekitar 4 Km.

>  Saat disini, saya juga melihat adanya penampakan angkot. Setelah saya telusuri, ada angkot dengan kode HV yang lewat Desa Candipari, jumlahnya hanya 15 angkot saja, dengan rute : Pasar Porong – Siring – Pamotan – Wunut – Candipari – Kedungborto – Waung – Jiken – Ploso – Mojoruntut – Krembung – PP.

Deskripsi Dan Sejarah Bangunan

Candi Pari memiliki bentuk yang tambun mengingatkan kita akan candi – candi di Jawa Tengah. Candi dari batu bata merah ini memiliki tinggi 15,40 meter, panjang 16 meter dan lebar 14,10 meter. Candi Hindu ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Hal ini terbukti dari adanya pahatan angka tahun 1293 saka (1371 M) di ambang pintu masuk candi.

Candi Pari bisa dibilang masih memiliki bentuk yang utuh, kaki dan badan candi masih ada hanya sebagain atap candi sudah tidak ada. Candi Pari minim sekali akan hiasan atau relief. Hiasan yang ada hanya miniatur candi yang menjorok keluar dari badan candi. Di atas miniatur candi ini terdapat hiasan berupa teratai. Di kanan – kiri miniatur candi ini terdapat lubang angin yang langsung tembus ke dalam bilik candi. Pada bagian atap candi sebenarnya ada hiasan binatang, namun sekarang sudah dalam kondisi yang aus.

Keunikan lainnya mengenai Candi Pari selain bentuknya yang tambun adalah tangga pintu masuk. Jika candi – candi lainnya memiliki tangga masuk yang langsung menuju bilik candi, maka hal ini tidak berlaku bagi Candi Pari. Untuk menuju bilik candi, sebelumnya akan ada  sebuah bidang persegi (batur) yang menjorok keluar dari bawah pintu candi (hal ini juga dapat dilihat di Candi Ngetos dan Candi Bangkal). Dikanan dan kiri batur tersebut terdapat tangga dengan pipi tangga (tempat pegangan) dalam kondisi yang telah  runtuh. Di beberapa sudut halaman candi juga terdapat reruntuhan batu bata, kemungkinan merupakan bekas pagar yang mengelilingi Candi Pari.

Di dalam bilik candi terdapat beberapa batu andesit, arca – arca dalam kondisi yang tak utuh serta beberapa balok kayu. Pada dinding bilik candi yang berhadapan dengan pintu masuk candi, terdapat sandaran arca dengan ukuran 6 x 6 meter. Mengingat besarnya sandaran arca, pasti besar pula arca yang menempati bilik Candi Pari ini. Namun, entah arca apa yang berada disana, mengingat arca tersebut tak pernah diketemukan.

Pemugaran

            Sudah banyak literature dan foto tentang Candi Pari sejak zaman Belanda. Salah satu diantaranya adalah N.J.Krom, yang menerbitkan bukunya Inlejding tot de Hindoe-Java asch Kunst  tahun 1923.


            Pada zaman kolonial belanda pula, Candi Pari pernah dipugar, pemugarannya antara lain memasang kayu pada bagian langit – langit pintu masuk. Pada tahun 1994-1999 Kanwil Depdikbud dan Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala Jawa Timur melakukan pemugaran kembali Candi Pari, dan tentunya dibantu oleh Pak Mustain, juru pelihara Candi Pari.

Legenda
            Masyarakat sekitar mengenal Candi Pari dan Candi Sumur sebagai Candi Lanang (Candi laki-laki) dan Candi Wadon (Candi Perempuan). Hal ini dikarenakan legenda tentang tokoh Joko Pandelegan.

            Alkisah, hiduplah Joko Walangtinuk dan Joko Pandelegan sahabatnya. Mereka berdua hidup di Desa Kedungtas dan membabat hutan untuk ditanam padi. Hasil panennya melimpah hingga Raja Hayam Wuruk mengirim orang kesana untuk meminta padi.
            Imbalannya, Joko Walangtinuk diangkat jadi pejabat di Keraton Majapahit. Joko Walangtunik setuju asalakan Joko Pandelegan juga boleh diajak. Namun, Joko Pandelegan beserta istrinya Nyi Roro Walang Angin menolak karena ingin tetap hidup di desa.
          Akhirnya, Joko Pandelegan masuk ke dalam lumbung, sedangkan Nyi Roro Walang Angin masuk ke dalam sumur. Mereka berduapun muksa disana. Untuk mengenangnya, Raja Hayam Wuruk membangun candi di tempat kedua orang itu menghilang. Candi – candi itu sekarang kita kenal dengan sebutan Candi Pari dan Candi Sumur.

            Sayangnya, selama hampir satu jam saya disana, saya tidak bertemu satupun juru pelihara candi, padahal Candi Pari memiliki 3 juru pelihara. Padahal juga sudah dihubungi Bu Maryati yang memiliki warung di depan Candi Pari (suaminya salah satu jupel). Katanya sih, suaminya sedang cari rumput. Tak ada sumber yang bisa ditanyai, apalagi tentang sejarah penemuan Candi Pari.

Candi Pari

            Bagaimanapun juga, Candi Pari sebenarnya sangat cocok dijadikan sebagai tempat rekreasi alternatif. Apalagi kalau wisatawan yang dari dan ke Bromo juga dibelokkan ke Candi Pari dan Candi Sumur setelah mereka mengunjungi Lumpur Panas Lapindo. Walaupun Candi Pari berada di lahan luas, memiliki taman yang tertata beserta kamar mandi, namun sangat jarang orang berkunjung kesini, apalagi kalau bukan musim liburan. O, Ya, jangan lupa juga berkunjung ke Candi Sumur yang berada 100 meter dari Candi Pari.

Sumber

CANDI PARI (Lumbung Padi Majapahit di Sidoarjo)


Candi Pari yang berdiri ditengah tengah desa Candi pari,Kecamatan Porong (15km arah selatan Sidoarjo)adalah satu-satunya candi peninggalan kerajaan Majapahit yang masih berpola utuh. berntuk sempurnanya berpola Candi Khmer (birma) dan Champa (Thailand).Hingga saat ini bentuk Candi Pari yang nyeleneh dari pola umum percandian Mojopahit itu belum ditemukan.Ciri khas pola bangunan candi Mojopahit selalu langsing pada bagian tubuh (tengah) dan trapesium pada bagian atap/mahkota dan selalu dibuat dari bahan batu emas.candi Pari yang dibuat oleh penguasa Mojopahit pada tahun 1293 Saka/1917 masehi ini berbentuk kubus,tanpa ada pembagian yang steorotif antar batur,tubuh dan mahkota.
Satu-satunya ciri Mojopahit hanyalah bahannya yang terbuat dari batu merah.Panjang Candi Pari ini 16,86 m,lebar 14,10 m dan tinggi 13,40 m sehingga terkesan pendek dan lebar.Sementara pola umum Candi Mojopahit selalu berorientasi vertikal.
Candi pari ini terdiri atas batur persegi empat,bagian barat menjorok keluar dengan undakan tangga pada sisi kanan-kiri menuju pintu masuk.Diatas pintu tertulis angka tahun pembuatan dan bagian dalam candi berupa ruang.
           
            Atap candi yang telah runtuh berbentuk amluntah,masih-masing dihias dengan sumber dan menara kecil.Pada tahap/mahkota inilah terletak ciri unik candi pari ini sebab bentuk mahkotanya sepenuhya memakai pola Kmer/Champa.tak ada penjelasan kenapa bentuk candi ini memakai bentuk bangunan negeri Champa walaupun ada bukti bahwa 2 kerajaan di Asia tenggara itu pernah menjalin hubungan dengan Mojopahit.Bahkan putri negeri itu yang beragama islam ada yang menjadi istri raja Mojopahit pada awal abad 15.Menurut penelitian yang dilakukan pada jaman Belanda,candi Pari merupakan candi utama dari sekian jumlah candi lain yang berada didalam satu komplek dengan pagar tembok,gapura,dan teras walaupun untuk bekas tembok yang mengurung komplek belum ditemukan tetapi laporan jaman Belanda itu agaknya tidak terlalu salah sebab di sebelah selatan candi pari berdiri sebuah candi dengan pola Mojopahit murni yang disebut candi sumur.Nama ini digunakan karena bagian dalam candi ada sebuah sumur yang saati ini telah mengering.Candi sumur ini rusak berat tinggal separuh dinding candi yang masih berdiri.Melihat jaraknya yang berdekatan,kemungkinan besar 2 candi itu merupakan satu kesatuan yang merupakan ciri percandian di Nusantara,dimana tidak ada sebuah candi yang berdiri sendiri.berbeda dengan temuanBalanda tentang fungsi candi pari yang disimpulkan sebagai tempat peribadatan,dalam masyaraka sekitar beredar cerita lisan (folklore) yang mengatakan bahwa didirikannya candi itu sebagai simbol kesuburan desa setempat dengan produksi padi (pari) yang melimpah dan mampu menyetorkan upeti kepada Raja Mojopahit.

Candi Sumur - Sidoarjo

Terletak di Dusun Candi Pari Wetan, Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten
Sidoarjo, Jawa Timur. Dibandingkan dengan Candi Pari, Candi Sumur memiliki bentuk yang lebih sederhana.Candi dari bahan batu bata merah ini tidak memiliki ornamen atau hiasan apapun. Jikapun ada, kemugkinan sudah aus.


Candi Sumur hanya berada sekitar 100 meter di sebelah selatan Candi Pari. dan  bisa dilihat  dari kanan, maka akan  terlihat Candi Sumur berdiri dengan kokohnya.

Sejarah Bangunan
Candi Sumur berdenah bujur sangkar dengan ukuran 8 m x 8 m dan memiliki tinggi 10 meter. Candi Sumur menghadap ke barat dan menempati lahan seluas 315 m dan perada pada ketinggian 4,42 mdpl.

Seperti Candi Pari, Candi Sumur bisa dibilang agak utuh. Kaki, badan dan atap candi masih ada. Sayangnya, badan dan atap candi ini tinggal separuh. Agar tidak roboh, badan dan atap candi yang separuh ini disangga oleh tiang besi berlapis semen.

Bilik candi yang seharusnya berisi yoni dan lingga tampak kosong, yang ada hanya sebuah sumur sedalam kurang lebih 3 meter. Adanya sumur yang telah mengering ini merupakan asal muasal nama Candi Sumur. Saat melongok ke dalam sumuran candi, ada beberapa uang logam yang dilemparkan kedalam sumur. Entah apa maksud pelempar uang ini, lagian kalo diambil akan sulit karena dalamnya sumurnya dalam dan sempit.

Candi ini pernah dipugar pada tahun 1999 sampai 2003 oleh Proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Trowulan Jawa Timur. Hasil pemugaran pada tahun itulah yang menghasilkan bentuk candi seperti sekarang.diperkirakan candi ini didirikan sekitar abad XIV M dan latar belakang Agama Hindu. Candi ini pernah dipugar pada tahun 1999 sampai 2003 oleh Proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Trowulan Jawa Timur.Candi Sumur diduga masih merupakan satu komplek dengan Candi Pari. Candi Sumur dibangun pada periode yang sama dan merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Raja Hayam Wuruk. Beberapa orang menduga fungsi Candi Sumur sebagai tempat mengambil air guna keperluan upacara di Candi Pari.


Orkes Keroncong Delta Irama



Musik keroncong kian tergusur dari belantika musik tanah air. Kita makin sulit menemukan orkes keroncong yang eksis di Kabupaten Sidoarjo. Apalagi orkes keroncong yang diperkuat musisi muda.

Syukurlah, di Sidoarjo masih ada Orkes Keroncong Delta Irama yang berusaha melestarikan keroncong agar tidak sampai punas. Selama satu dasawarsa terakhir mereka aktif berlatih di kawasan Mayjen Sungkono Sidoarjo.

Menurut Teguh Wibowo, pemain cello yang juga koordinator, cikal-bakal orkes keroncong ini sebetulnya sudah ada puluhan tahun lalu. Waktu itu namanya OK Delta. Namun, karena sepi tanggapan dan kesibukan masing-masing anggota, orkes ini pun vakum. Baru pada 1999 Teguh menghidupkan lagi orkes ini dengan nama OK Delta Irama. "Beberapa pemain lama juga meninggal karena memang sudah sepuh," kata Teguh.

Saat vakum itulah Teguh dan beberapa penggemar keroncong berusaha melestarikan musik lawas ini dengan bermain bersama. Semacam jam session. Lama-kelamaan semua personel terisi layaknya sebuah orkes keroncong.

Selain Teguh yang main celloa, ada Heru (biola), Lanu (bas), Yudi (ukulele), Joko (saksofon), Agus (gitar). Vokalisnya cukup banyak karena banyak orang yang ingin menyanyi diiringi orkes keroncong. Mereka adalah Sri Retno, Endang, Utami, Hartini, dan Suroso.

Saat ini setiap Jumat malam para pemain OK Delta Irama berkumpul untuk latihan bersama. Bukan karena ada job atau tanggapan, tapi lebih karena hobi. "Yah, untuk silaturahmi sekaligus hiburan," kata Teguh.

Dia mengakui musik keroncong makin kehilangan peminat dalam 20 tahun terakhir. Orkes-orkes yang pernah ada di Sidoarjo bubar satu per satu. Kalaupun ada satu dua grup yang mencoba bertahan, tidak pernah ditanggap untuk mengisi hajatan-hajatan seperti perkawinan.

"Kita masih kumpul dan berlatih karena memang hobi saja. Tapi kalau ada orang yang mau nanggap ya silakan," kata pria 36 tahun ini.

Tak mudah mempertahankan keroncong di tengah masyarakat Sidoarjo yang gila dangdut dan pop. Namun, Teguh dkk tak putus asa. Mereka tetap berlati dan bermusik dengan gembira.

Sumber

Ludruk, kesenian asli jawa timur



Sebelum tahun 1990 begitu banyak grup ludruk yang bertebaran di jawa timur. Namun, perlahan-lahan satu per satu grup kesenian tradisional ini gulung tikar. Saat ini hanya ada beberapa gelintir ludruk yang masih bertahan dalam kondisi senen-kemis.

Menurut Prof Dr Henricus Supriyanto, pengamat ludruk, bubarnya grup-grup ludruk itu tak lepas dari masuknya televisi yang menawarkan hiburan ke rumah-rumah penduduk di kawasan pinggiran. Padahal. warga pinggiran itu dulu dikenal sebagai penonton ludruk yang setia.

"Sebelum ada televisi, orang kalau tidak nonton ludruk ya lihat wayang wong, wayang kulit, atau ketoprak," katanya.

Selain itu, menurut Henri, kebijakan Orde Baru yang represif dan antikritik membuat grup ludruk kehilangan daya tariknya. Lawakan-lawakan yang mengkritik kebijakan pemerintah dan ketimpangan sosial dilarang. Yang ada hanya kidungan tentang keberhasilan pembangunan atau pentingnya P4.

"Banyolan-banyolan ludruk sudah tidak menarik lagi. Orang jadi malas lihat ludruk," kata mantan dosen Unesa ini.

Kehilangan daya kritis ini, sambung dia, terbawa sampai sekarang. Kemampuan pelawak atau peludruk mengkritik kondisi di masyarakat seperti BBM sudah tak ada karena tidak menguasai materinya.

"Maka, pelawak ludruk hanya mampu menyajikan banyolan lawas. Banyolan seperti itu sudah sering dilihat penonton sehingga bosan dan meninggalkan ludruk," kata pria yang tekun meneliti ludruk di Jatim itu.

Pelawak memang tulang punggung sebuah grup ludruk. Begitu banyak kelompok ludruk yang gulung tikar setelah ditinggal pelawak andalannya. Ketika Basman memilih bergabung dengan Kartolo di Surabaya, Ludruk Warna Jaya Sidoarjo oleng. Ludruk Bintang Jaya juga kehilangan penggemar setelah ditinggal pelawak andalannya Momon, Agus Kuprit, dan Darmaji.

Masalahnya, tidak mudah menciptakan pelawak-pelawak baru yang berkualitas dan digemari penonton. "Lawakan harus bagus dan segar. Kalau cuma banyolan lawas thok, ya, penonton gak akan tertawa karena sudah tahu," kata Marliyah (57), pengurus grup ludruk di kawasan Balongbendo.

Meski grup ludruk di Kabupaten Sidoarjo makin sedikit, Marliyah dan kawan-kawan masih mampu menjaga eksistensi Karya Baru sampai saat ini. Grup ludruk ini kerap tampil di kawasan Balongbendo, Krian, Tarik, Prambon, hingga Mojokerto. Apa rahasia sukses Karya Baru?

Pertama, lawakan yang segar dan menghibur. Kedua, kostum, tema lawakan, maupun lakon harus diubah jika lokasi pementasan di radius lima kilometer dari lokasi pertunjukan terdahulu. Ketiga, menampilkan penri-penari cewek yang muda.

"Anak-anak itu paling kritis. Kalau lawakannya sudah pernah dilihat, mereka dengan spontan akan berteriak: banyolane pancet! Apa gak malu?" tukasnya.
Meski kondisi grup ludruk saat ini sudah jauh berbeda dengan era 1980-an,

Marliyah optimistis masih banyak warga Sidoarjo yang menggemari ludruk. Sebab, ludruk merupakan kesenian rakyat yang lahir dari masyarakat bawah yang selalu tertekan beratnya beban hidup. Ludruk membuat wong cilik bisa tertawa-tawa dan sejenak melupakan penderitaan hidupnya.