Senin, 15 Juli 2013

Candi Sumur - Sidoarjo

Terletak di Dusun Candi Pari Wetan, Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten
Sidoarjo, Jawa Timur. Dibandingkan dengan Candi Pari, Candi Sumur memiliki bentuk yang lebih sederhana.Candi dari bahan batu bata merah ini tidak memiliki ornamen atau hiasan apapun. Jikapun ada, kemugkinan sudah aus.


Candi Sumur hanya berada sekitar 100 meter di sebelah selatan Candi Pari. dan  bisa dilihat  dari kanan, maka akan  terlihat Candi Sumur berdiri dengan kokohnya.

Sejarah Bangunan
Candi Sumur berdenah bujur sangkar dengan ukuran 8 m x 8 m dan memiliki tinggi 10 meter. Candi Sumur menghadap ke barat dan menempati lahan seluas 315 m dan perada pada ketinggian 4,42 mdpl.

Seperti Candi Pari, Candi Sumur bisa dibilang agak utuh. Kaki, badan dan atap candi masih ada. Sayangnya, badan dan atap candi ini tinggal separuh. Agar tidak roboh, badan dan atap candi yang separuh ini disangga oleh tiang besi berlapis semen.

Bilik candi yang seharusnya berisi yoni dan lingga tampak kosong, yang ada hanya sebuah sumur sedalam kurang lebih 3 meter. Adanya sumur yang telah mengering ini merupakan asal muasal nama Candi Sumur. Saat melongok ke dalam sumuran candi, ada beberapa uang logam yang dilemparkan kedalam sumur. Entah apa maksud pelempar uang ini, lagian kalo diambil akan sulit karena dalamnya sumurnya dalam dan sempit.

Candi ini pernah dipugar pada tahun 1999 sampai 2003 oleh Proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Trowulan Jawa Timur. Hasil pemugaran pada tahun itulah yang menghasilkan bentuk candi seperti sekarang.diperkirakan candi ini didirikan sekitar abad XIV M dan latar belakang Agama Hindu. Candi ini pernah dipugar pada tahun 1999 sampai 2003 oleh Proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Trowulan Jawa Timur.Candi Sumur diduga masih merupakan satu komplek dengan Candi Pari. Candi Sumur dibangun pada periode yang sama dan merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Raja Hayam Wuruk. Beberapa orang menduga fungsi Candi Sumur sebagai tempat mengambil air guna keperluan upacara di Candi Pari.


Orkes Keroncong Delta Irama



Musik keroncong kian tergusur dari belantika musik tanah air. Kita makin sulit menemukan orkes keroncong yang eksis di Kabupaten Sidoarjo. Apalagi orkes keroncong yang diperkuat musisi muda.

Syukurlah, di Sidoarjo masih ada Orkes Keroncong Delta Irama yang berusaha melestarikan keroncong agar tidak sampai punas. Selama satu dasawarsa terakhir mereka aktif berlatih di kawasan Mayjen Sungkono Sidoarjo.

Menurut Teguh Wibowo, pemain cello yang juga koordinator, cikal-bakal orkes keroncong ini sebetulnya sudah ada puluhan tahun lalu. Waktu itu namanya OK Delta. Namun, karena sepi tanggapan dan kesibukan masing-masing anggota, orkes ini pun vakum. Baru pada 1999 Teguh menghidupkan lagi orkes ini dengan nama OK Delta Irama. "Beberapa pemain lama juga meninggal karena memang sudah sepuh," kata Teguh.

Saat vakum itulah Teguh dan beberapa penggemar keroncong berusaha melestarikan musik lawas ini dengan bermain bersama. Semacam jam session. Lama-kelamaan semua personel terisi layaknya sebuah orkes keroncong.

Selain Teguh yang main celloa, ada Heru (biola), Lanu (bas), Yudi (ukulele), Joko (saksofon), Agus (gitar). Vokalisnya cukup banyak karena banyak orang yang ingin menyanyi diiringi orkes keroncong. Mereka adalah Sri Retno, Endang, Utami, Hartini, dan Suroso.

Saat ini setiap Jumat malam para pemain OK Delta Irama berkumpul untuk latihan bersama. Bukan karena ada job atau tanggapan, tapi lebih karena hobi. "Yah, untuk silaturahmi sekaligus hiburan," kata Teguh.

Dia mengakui musik keroncong makin kehilangan peminat dalam 20 tahun terakhir. Orkes-orkes yang pernah ada di Sidoarjo bubar satu per satu. Kalaupun ada satu dua grup yang mencoba bertahan, tidak pernah ditanggap untuk mengisi hajatan-hajatan seperti perkawinan.

"Kita masih kumpul dan berlatih karena memang hobi saja. Tapi kalau ada orang yang mau nanggap ya silakan," kata pria 36 tahun ini.

Tak mudah mempertahankan keroncong di tengah masyarakat Sidoarjo yang gila dangdut dan pop. Namun, Teguh dkk tak putus asa. Mereka tetap berlati dan bermusik dengan gembira.

Sumber

Ludruk, kesenian asli jawa timur



Sebelum tahun 1990 begitu banyak grup ludruk yang bertebaran di jawa timur. Namun, perlahan-lahan satu per satu grup kesenian tradisional ini gulung tikar. Saat ini hanya ada beberapa gelintir ludruk yang masih bertahan dalam kondisi senen-kemis.

Menurut Prof Dr Henricus Supriyanto, pengamat ludruk, bubarnya grup-grup ludruk itu tak lepas dari masuknya televisi yang menawarkan hiburan ke rumah-rumah penduduk di kawasan pinggiran. Padahal. warga pinggiran itu dulu dikenal sebagai penonton ludruk yang setia.

"Sebelum ada televisi, orang kalau tidak nonton ludruk ya lihat wayang wong, wayang kulit, atau ketoprak," katanya.

Selain itu, menurut Henri, kebijakan Orde Baru yang represif dan antikritik membuat grup ludruk kehilangan daya tariknya. Lawakan-lawakan yang mengkritik kebijakan pemerintah dan ketimpangan sosial dilarang. Yang ada hanya kidungan tentang keberhasilan pembangunan atau pentingnya P4.

"Banyolan-banyolan ludruk sudah tidak menarik lagi. Orang jadi malas lihat ludruk," kata mantan dosen Unesa ini.

Kehilangan daya kritis ini, sambung dia, terbawa sampai sekarang. Kemampuan pelawak atau peludruk mengkritik kondisi di masyarakat seperti BBM sudah tak ada karena tidak menguasai materinya.

"Maka, pelawak ludruk hanya mampu menyajikan banyolan lawas. Banyolan seperti itu sudah sering dilihat penonton sehingga bosan dan meninggalkan ludruk," kata pria yang tekun meneliti ludruk di Jatim itu.

Pelawak memang tulang punggung sebuah grup ludruk. Begitu banyak kelompok ludruk yang gulung tikar setelah ditinggal pelawak andalannya. Ketika Basman memilih bergabung dengan Kartolo di Surabaya, Ludruk Warna Jaya Sidoarjo oleng. Ludruk Bintang Jaya juga kehilangan penggemar setelah ditinggal pelawak andalannya Momon, Agus Kuprit, dan Darmaji.

Masalahnya, tidak mudah menciptakan pelawak-pelawak baru yang berkualitas dan digemari penonton. "Lawakan harus bagus dan segar. Kalau cuma banyolan lawas thok, ya, penonton gak akan tertawa karena sudah tahu," kata Marliyah (57), pengurus grup ludruk di kawasan Balongbendo.

Meski grup ludruk di Kabupaten Sidoarjo makin sedikit, Marliyah dan kawan-kawan masih mampu menjaga eksistensi Karya Baru sampai saat ini. Grup ludruk ini kerap tampil di kawasan Balongbendo, Krian, Tarik, Prambon, hingga Mojokerto. Apa rahasia sukses Karya Baru?

Pertama, lawakan yang segar dan menghibur. Kedua, kostum, tema lawakan, maupun lakon harus diubah jika lokasi pementasan di radius lima kilometer dari lokasi pertunjukan terdahulu. Ketiga, menampilkan penri-penari cewek yang muda.

"Anak-anak itu paling kritis. Kalau lawakannya sudah pernah dilihat, mereka dengan spontan akan berteriak: banyolane pancet! Apa gak malu?" tukasnya.
Meski kondisi grup ludruk saat ini sudah jauh berbeda dengan era 1980-an,

Marliyah optimistis masih banyak warga Sidoarjo yang menggemari ludruk. Sebab, ludruk merupakan kesenian rakyat yang lahir dari masyarakat bawah yang selalu tertekan beratnya beban hidup. Ludruk membuat wong cilik bisa tertawa-tawa dan sejenak melupakan penderitaan hidupnya.

Masjid Cheng Hoo Surabaya

Masjid Cheng Hoo Surabaya


Wajah Masjid Cheng Hoo, Surabaya, menjelang bulan Ramadan 1434 Hijriah, atau 10 Juli 2013, sedikit berubah. Masjid berarsitektur Tionghoa di Jalang Gading 2 itu sudah dilengkapi kanopi untuk menghindari jamaah dari siraman air hujan dan panas matahari.

"Sekarang ini sudah masuk musim kemarau, tapi masih sering hujan. Jadi, kanopi itu bisa membantu jamaah melaksanakan ibadah salat tarawih dengan khusyuk," ujar Hasan Basri, office manager Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia.


Selama ini masjid yang telah berusia 10 tahun itu selalu memasang terop di halaman untuk menmpung banyaknya jamaah yang melaksanakan salat tarawih. Sistem bongkar pasang tenda ini kemudian dikritik oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Risma meminta YHMCHI dan pengusaha Tionghoa untuk membuat kanopi yang permanen.


"Alhamdulillah, target para pengurus agar kanopinya bisa dimanfaatkan saat Ramadan bisa terpenuhi. Tapi pengerjaannya masih terus dilanjutkan karena belum selesai. Dananya malah masih kurang," ujar Hasan lantas tertawa kecil.


Ustad Haryono Ong menambahkan, pengurus Masjid Cheng Hoo, Surabaya, akan memulai salat tarawih dengan mengacu pada jadwal   dari Kementerian Agama RI. "Kami dari dulu mengikuti apa yang menjadi keputusan pemerintah, soal awal puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha," kata Haryono.


Sejak pekan lalu pengurus masjid berusaha maksimal agar jamaah merasa nyaman saat beribadah salat tarawih. Berbagai sarana dan prasarana yang diperlukan disiapkan sebaik mungkin. "Yang paling berat memang pemasangan kanopi. Biaya yang dibutuhkan tidak sedikit," kata Ong.


Ong menjelaskan, masjid yang berdiri di lahan seluas 21 x 11 meter persegi dengan luas bangunan utama 11 x 9 meter persegi itu termasuk sangat kecil untuk ukuran Surabaya. Hanya memiliki daya tampung sekitar 300 orang. 


Karena itu, selama ini ratusan jamaah dari dalam dan luar kota beribadah di halaman masjid, yang juga lapangan basket. 


"Insya Allah, dengan adanya kanopi ini jamaah bisa lebih khusyuk," katanya. 

Kesenian wayang kulit di Jawa

Kesenian wayang kulit di Jawa



Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur belum lama ini nanggap wayang kulit di halaman kantornya, Jalan Raya Tenggilis 1 Surabaya. Dalangnya Ki Anom Suroto dari Solo. Ternyata penonton membeludak.

Apa boleh buat, saya tak dapat tempat duduk di terop meski membawa surat undangan. Terpaksalah beta duduk lesehan bersama 20-an penoton lain di belakang kelir (layar).

Gayeng banget suasananya. Apalagi dagelan Cak Momon, Cak Tawar, Ning Susi cukup lucu meskipun ada beberapa banyolan lawas. Wayang kulit memang pertunjukan rakyat yang gayeng di tanah Jawa.

"Cak, koen lungguo!" penonton berteriak ketika ada orang yang berdiri sehingga menutup kelir. Hehehe... ketawa rame-rame.

Minggu lalu saya juga nonton wayang kulit dengan dalang Ki Enthus yang 'wuedan' itu. Tapi duduknya di dalam terop. Dari dulu memang duduk atau melihat dari punggungnya ki dalang. Baru kali ini saya melihat wayang lewat kelir alias tanpa melihat wajah dalang. Tanpa melihat pemain-pemain musik gamelan, sinden, pelawak, maupun penonton-penonton VIP.

Rupanya, menonton lesehan di belakang layar ini ternyata menjadi berkah tersendiri. Saya baru sadar bahwa keindahan gerak-gerik wayang kulit justru kita dapatkan di belakang layar. Bayangan wayang saat berperang, saling hantam, saling adu jurus sakti... justru terlihat sangat hidup di layar.

Dengan lampu yang temaran, karena memang tidak disediakan penerangan di balik layar, suasananya lebih asyik. Beda dengan menonton wayang kulit dari arah punggungnya Pak Dalang. Kita memang melihat wajah sinden-sinden yang ayu, tapi malam itu sindennya tua-tua, pelawak-pelawak, tapi sulit menikmati gerak-gerik wayang.

Menonton di balik layar ternyata benar-benar fokus. Pandangan mata kita hanya ke layar segi empat di bagian tengah yang ada wayangnya. Seni sabetan sang dalang dalam cerita Semar Mbangun Kayangan ini akan kelihatan di sini. Kita jadi tahu mana dalang yang hebat, mana yang sedang, mana yang maksa, justru di balik kelir.

"Sabetan Ki Manthep Soedarsono yang paling saya suka," kata seorang bapak asal Sidoarjo yang khusus datang ke Tenggilis untuk menonton wayang kulit dengan dalang Ki Anom Suroto.

"Ki Anom ini dalang paling populer di Indonesia saat ini bersama Ki Manthep. Saya usahakan menonton karena jarang sekali Ki Manthep dan Ki Anom main di Surabaya atau Sidoarjo."

Blessing in disguise. Tidak dapat tempat di terop, hanya bisa lesehan di belakang layar, ternyata membuat saya menemukan kenikmatan dalam menyaksikan pergelaran wayang kulit. Bahwa nonton wayang itu sebaiknya dari belakang layar, bukan duduk di terop sambil nyamilan, melihat begitu banyak karakter wayang yang ditancapkan di gedebog pisang.

Kata budayawan-budayawan Jawa, tempo doeloe memang wayang kulit itu ditonton dari belakang layar. Yang dilihat itu bayang-bayang para wayang yang digerakkan oleh ki dalang. Wajah sang dalang, sinden, pemain musik tak perlu dilihat. Fokus mata penonton hanya ke arah kelir atau layar putih.

Kemudian terjadi semacam revolusi budaya di tanah air. Maka, posisi penonton pun berubah. Saat ini hampir tidak ada lagi orang yang menonton wayang kulit di layar, kecuali terpaksa karena tidak mendapat tempat. Tak akan ada panitia yang menyediakan kursi di belakang layar, yang temaram.

Wayang kulit saat ini pun terlalu banyak disusupi aneka hiburan. Dagelan alias lawak, campursari, bahkan akhir pekan lalu Ki Soenarjo menghadirkan dangdut di halaman DPRD Jawa Timur. Duo Virgin malah menyanyikan lagu Kereta Malam. Porsi sabetan dan esensi wayang kulit malah menjadi berkurang drastis.

Selera orang berbeda-beda. Tapi, setelah menikmati pertunjukan wayang kulit di halaman KPU Jatim itu, ke depan saya akan berusaha menonton dari belakang kelir. Membayangkan keindahan seni wayang kulit ketika masih dimainkan dengan penerangan berupa blencong alias lampu minyak tanah, belum memakai lampu listrik yang terlalu terang itu

Sumber

Kamis, 27 Juni 2013

Pulau Sarinah di Muara Sidoarjo




Aliran lumpur Lapindo ke muara Sungai Porong sejak 29 Mei 2006 akhirnya membentuk sebuah pulau baru di kawasan Kedungpandan, Kecamatan Jabon. Pulau Sarinah, yang dikelola Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), diharapkan mengangkat citra Tlocor dan potensi wisata pantai di Sidoarjo.

Selain jalan raya yang mulus dari pinggir tangkis Kali Porong, Dusun Tlocor sudah punya dermaga sebagai tempat sandar perahu wisata. Berbeda dengan dermaga buatan Pemkab Sidoarjo di Dusun Kepetingan, kampung nelayan di kawasan Buduran, yang seadanya, dermaga Tlocor ini jauh lebih bagus.

Di sisi kiri-kanan dermaga ada areal yang sangat luas untuk parkir atau sekadar kongko-kongko menikmati pemandangan Pulau Dem di depan mata. Pulau Dem sendiri juga pulau hasil sedimentasi material dari Kali Porong yang sudah terjadi sejak zaman Hindia Belanda. Pulau kecil itu saat ini dikelola beberapa juragan tambak dan ditempati beberapa warga.

Berbeda dengan Pulau Dem yang terbentuk secara alamiah selama puluhan tahun, Pulau Sarinah di Tlocor ini bisa langsung ‘jadi’ dalam waktu singkat. Hanya dalam tempo sekitar lima tahun, pulau buatan BPLS ini sudah mencapai luas sekitar 80 hektare dengan ketinggian dua sampai tiga meter. Setiap hari luas Sarinah terus bertambah mengingat lumpur Lapindo terus dialirkan ke Sungai Porong. Jarak Pulau Sarinah dari Dermaga Tlocor hanya sekitar lima kilometer.

Namanya juga pulau baru, tentu saja tak banyak pemandangan alam yang bisa dinikmati di Sarinah. Sempat ada gerakan penghijauan dengan menanam mangrove, tapi hasilnya masih menunggu beberapa tahun lagi. Hanya saja, Sarinah ini kerap dikunjungi warga yang penasaran dengan pulau buatan BPLS dan Lapindo Brantas itu. “Yah, sekaligus untuk wisata mangrove. Kita juga ingin menikmati suasana alam di pesisir Sidoarjo,” ujar Bobby, warga Gedangan, yang pernah berwisata ke Pulau Sarinah.

Nah, keberadaan Pulau Sarinah, Dermaga Tlocor, kemudian jalan raya yang semulus tol itulah yang kemudian menciptakan lapangan ekonomi baru bagi warga Tlocor dan Kedungpandan umumnya. Warga yang selama bertahun-tahun terisolasi, mayoritas jadi penjaga atau pengelola tambak, atau nelayan, kini mencoba menekuni usaha wisata kecil-kecilan. Perahu-perahu nelayan pun disewakan untuk mengantar wisatawan atau penggemar mancing ke Pulau Sarinah.

Cukup membayar Rp 50 ribu, kita bisa berlayar ke Pulau Sarinah dan menikmati wisata mangrove selama tiga jam. Tak puas? Kita bisa menyewa Rp1 50 ribu sampai Rp 200 ribu untuk memancing selama satu hari penuh. Selama perjalanan dari Dermaga Tlocor menuju Sarinah, pengunjung dapat menikmati pemandangan di kanan-kiri sungai berupa hutan bakau yang didominasi oleh jenis api-api (Avicenia sp), khususnya jenis Avicenia alba dan Avicenia marina.

“Kalau mereka yang hobi memancing, biasanya bisa seharian penuh di sana. Tapi kalau cuma lihat-lihat pemandangan laut, paling cuma tiga jam sudah pulang,” ucap Jafar, salah satu pemilik perahu.

Sayang, meski infrastruktur jalan dan dermaga di Tlocor ini sudah cukup lama dioperasikan, sampai sekarang geliat wisata pantai di pesisir Kabupaten Sidoarjo ini belum begitu terasa. Lihat saja. Pada hari biasa jarang ada wisatawan yang datang menyewa perahu atau sekadar kongko-kongko di kawasan dermaga baru itu. Biasanya, pengunjung baru ramai pada akhir pekan atau hari-hari libur nasional.

“Makanya, kita minta tolong pemkab untuk lebih aktif mempromosikan potensi wisata di daerah Tlocor ini. Sayang kalau fasilitas yang sudah ada ini tidak dimanfaatkan,” kata salah satu warga setempat. 

Sabtu, 20 April 2013

Dalam Demokrasi, Siapapun Cenderung Jadi Buruk


Muhammad Ismail Yusanto,
Jubir H
izbut Tahrir Indonesia (HTI)
Partai Islam jadi sorotan karena partai yang selama ini mengaku sebagai partai yang bersih, petingginya ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).Muncul wacana agar partai Islam mengubah jati dirinya menjadi partai sekuler dan tak lagi berasaskan Islam dengan alasan agar Islam tidak tercoreng. Sebenarnya apa akar persoalannya, asasnya atau sistem demokrasi-liberal yang berlaku di negeri ini.Lalu bagaimana dengan sistem Islam sendiri? Untuk menjawabnya wartawan Media Umat Joko Prasetyo mewawancarai juru bicara Hizbut Tahrir Indonesia M Ismail Yusanto. Berikut petikannya.
Ada yang mewacanakan parpol harus dipisahkan dari agama. Karena Islam jadi ‘tercoreng’ tatkala parpol yang membawa nama Islam kadernya jadi tersangka korupsi. Tanggapan Anda?
Itu tidak tepat. Masalahnya bukan di situ. Itu terjadi karena partai Islam itu jauh dari Islam, akhirnya korupsi.
Tapi bukankah secara sistemik, demokrasi memang membuat para penyelenggaranya termasuk yang dari Parpol Islam jadi korup?
Kenyataannya ini menegaskan satu hal, bahwa di dalam sistem yang buruk, yaitu demokrasi, siapapun memang akan cenderung menjadi buruk. Hanya mereka yang berusaha keras menjaga kebersihan diri terus menerus yang bisa terhindar dari pengaruh buruk itu, meski dengan risiko terlempar dari arena atau kemudian karena terdesak ia akhirnya terpaksa terlarut juga dalam suasana yang buruk itu.
Lantas negeri yang mayoritas berpenduduk Muslim ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus menggunakan sistem apa?
Tentu saja menggunakan sistem Islam. Tidak lain, itulah khilafah.
Namun ada yang berkilah, yang salah bukan pada sistem demokrasinya, maka harus dilakukan perbaikan pada sistem demokrasi, supaya demokrasi itu tidak mahal, tidak transaksional, supaya transparan secara keuangan sehingga tidak korup. Bagaimana tanggapan Anda?
Itu, secara teori bisa saja. Tetapi ketika suatu kewenangan membuat UU itu ada pada wakil rakyat, ketika jabatan publik itu selalu dalam periode lima tahun sekali dengan kampanye yang panjang, tidak ada ketakwaan karena itu sekulerisme, maka perbaikan-perbaikan itu menjadi sifatnya hanya instrumental belaka. Dan tetap saja demokrasi jadi biang korupsi.
Memang dalam sistem khilafah, calon kepala negara tidak mengeluarkan biaya kampanye?
Mungkin saja di dalam sistem khilafah kampanye juga memerlukan biaya, tapi oleh karena pendeknya masa kampanye, yakni hanya kurang dari tiga hari dua malam, sejak khilafah yang lama mengakhiri jabatannya, membuat biaya kampanye tentu tidak akan sebesar bila kampanye berlangsung berminggu-minggu atau  bahkan berbulan-bulan sebagaimana yang terjadi pada sistem demokrasi.
Oleh karena itu, siapapun yang menjadi calon khalifah tidak perlu harus menghimpun dana  besar yang kadang mendorongnya menghalalkan segala cara.
Ada pembatasan masa jabatan juga?
Harus diingat bahwa di dalam sistem khilafah tidak ada periodisasi baku masa jabatan khalifah, misalnya empat tahun seperti masa jabatan presiden di AS atau lima tahun seperti di Indonesia. Masa jabatan khalifah dibatasi oleh pelaksanaan hukum syara’.
Dengan cara itu, rakyat tidak harus selalu disibukkan untuk memilih pemimpinnya dalam kurun waktu tertentu yang terbukti menyita banyak sekali energi.
Lihatlah di Indonesia. Dalam waktu lima tahun diselenggarakan lebih dari 400 pemilu, baik untuk pemilu legislatif, pemilu presiden, maupun pemilihan kepala daerah (bubernur, walikota/bupati). Berapa banyak dana dan energi yang diperlukan untuk itu semua?
Maka ketika menjabat, orang yang sudah telanjur keluar biaya banyak ini akan cenderung korupsi?
Ya tentu saja. Lihatlah, di negeri ini ada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur yang sampai menghabiskan biaya Rp 1,3 trilyun untuk pilkada. Sedangkan anggota legislatif ada yang mengeluarkan biaya hingga Rp 6 milyar.  Bayangkan, dari mana mereka mengembalikan uang sebanyak itu?
Tentu bukan dari gaji, tapi dari berbagai usaha yang cenderung koruptif. Misalnya, jual beli ayat atau pasal dalam penyusunan peraturan perundang-undangan supaya bisa menguntungkan pihak pemilik modal. Atau memberikan keistimewaan kepada pihak pemilik modal dalam pengerjaan proyek-proyek pemerintah, lisensi dagang dan perizinan-perizinan.
Kalau dalam sistem khilafah?
Jual beli ayat atau pasal tidak mungkin dilakukan karena peraturan perundangan disusun dengan mengacu pada Alquran dan hadits, juga ijma’ dan qiyas. Jadi bukan didasarkan pada keingingan orang perorang atau kelompok.
Meski menjadi seorang khalifah tidak mengeluarkan biaya, bahkan menjadi wali dan amil hanya ditunjuk saja oleh khalifah, namun kemungkinan korupsi akan tetap ada kan?
Memang bagaimanapun khalifah (kepala negara), wali (gubernur), amil (walikota) dan seluruh pejabat dalam negara khilafah adalah manusia biasa yang bisa saja tergoda dan terdorong untuk melakukan tindak korupsi. Tapi, kalaulah itu terjadi, bisa dipastikan itu by person. Maksudnya, hanya dilakukan oleh orang perorang.Bukan by sistem, korupsi terjadi oleh karena sistem yang ada memang mendorongnya untuk korupsi seperti yang sekarang ini berjalan.
Lantas bagaimana sistem khilafah mencegah tindak korupsi by persontersebut?
Secara sistemik sistem khilafah mengatur sejumlah langkah yang harus ditempuh guna mencegah terjadinya korupsi.
Pertama,ini yang utama. Yakni diwujudkannya suasana takwa pada Allah SWT di tengah masyarakat. Dengan iman dan takwa, setiap pegawai merasa wajib untuk taat kepada aturan Allah. Masing-masing sadar akan konsekuensi dari ketaatan atau pelanggaran yang dilakukannya, karena tidak ada satu pun perbuatan di dunia yang lepas dari hisab (perhitungan) Allah.
Dengan iman dan takwa akan tercipta mekanisme pengendalian diri yang handal.Para birokrat — juga semua rakyat — akan berusaha keras mencari rizki secara halal dan memanfaatkannya hanya di jalan yang diridhai Allah SWT.
Kepada birokrat ditekankan bahwa tugas utamanya adalah melayani rakyat, dan wajib atas mereka melaksanakan amanah itu dengan jujur, adil, ikhlas dan taat kepada aturan negara yakni syariah Islam.
Kedua?
Sistem penggajian yang layak. Rasulullah SAW sendiri menyadari, sistem Islam tidak akan berjalan baik bila para pelaksananya berkepribadian rusak. Dan itu biasanya bermula dari gaji yang tidak mencukupi.
Para birokrat bagaimana pun adalah juga manusia biasa yang mempunyai kebutuhan hidup serta kewajiban memberi nafkah keluarganya. Agar dapat bekerja dengan tenang dan tidak tergoda untuk berbuat curang, kepada mereka diberikan gaji yang layak serta tunjangan hidup lain.
Ketiga, teladan dari pemimpin. Dengan teladan dari pemimpin, tindak penyimpangan akan terdeteksi secara dini. Penyidikan dan penindakan tidak sulit dilakukan. Tapi apa jadinya bila justru pemimpin itu yang melakukan korupsi dan melindungi korupsi yang dilakukan bawahannya? Semua upaya apa pun menjadi tidak ada artinya sama sekali.
Ada yang berikutnya?
Pembuktian terbalik. Untuk  menjaga dari berbuat curang, dihitung kekayaan seseorang di awal jabatannya sebagai pejabat negara, kemudian dihitung ulang di akhir jabatan. Bila terdapat kenaikan yang tidak wajar, yang bersangkutan harus menjelaskan dari mana harta itu diperoleh. Bila didapat dari cara curang, kelebihannya itu harus diserahkan kepada Baitui Mal.
Kelima, hukuman setimpal. Dalam Islam tindak korupsi termasuk jarimah(kejahatan) yang akan terkenai ta’zir. Menurut Abdurrahman Maliky dalam kitabNidzamu al-’Uqubat, bentuknya bisa berupa hukuman tasyh’ir (berupa pewartaan), hukuman penjara bahkan sampai hukuman mati.
Ada keunggulan lain, yang tidak mungkin didapat selain dengan khilafah?
Ada. Karena sistem hukum Islam selain berfungsi sebagai zawajirun atas tindak kriminalitas sekaligus sebagai penebus (jawabirun) atas tindakan jahat yang telah dilakukan oleh si pelaku. Sanksi yang dijatuhkan di dunia bisa menghilangkan sanksi yang ada di akhirat. Ini yang tidak ada dalam sistem lain.

Sumber