Senin, 15 Juli 2013

Candi Pari

Hm, Berbeda dengan kota tetangganya, Surabaya, ternyata Kabupaten Sidoarjo yang sarat akan bangunan pabrik ini menyimpan banyak sekali peninggalan sejarah era Klasik Indonesia, Candi Pari adalah salah satunya. Candi Pari sendiri berada di Dusun Candi Pari Wetan, Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur.

Bacpacker ke Candi Pari

Tak banyak yang tahu ternyata letak Candi Pari berseberangan dengan Kolam Lumpur Panas Lapindo, bersanding dengan Candi Sumur, Candi Pamotan I dan II serta Candi Wangkal. Jika ditarik garis lurus, Candi Pari hanya berjarak 2,5 Km dari Jalan Raya Porong.

  >  Jika kita berkendara sendiri, maka kita dapat mengarahkan kendaraan kita menuju Kolam Lumpur Panas lapindo. Dari sini kita dapat menanyakan lokasi candi ke penduduk setempat yang sangat mengenal candi ini.

  >  Jika memakai kendaraan umum, maka kita dari arah Surabaya kita dapat naik bus menuju Pandaan atau bus menuju Pasuruan, bilang turun di porong tepatnya di Tugu Kuning. Dari sini kita dapat naik ojek atau becak menuju candi. Jarak yang ditempuh sekitar 4 Km.

>  Saat disini, saya juga melihat adanya penampakan angkot. Setelah saya telusuri, ada angkot dengan kode HV yang lewat Desa Candipari, jumlahnya hanya 15 angkot saja, dengan rute : Pasar Porong – Siring – Pamotan – Wunut – Candipari – Kedungborto – Waung – Jiken – Ploso – Mojoruntut – Krembung – PP.

Deskripsi Dan Sejarah Bangunan

Candi Pari memiliki bentuk yang tambun mengingatkan kita akan candi – candi di Jawa Tengah. Candi dari batu bata merah ini memiliki tinggi 15,40 meter, panjang 16 meter dan lebar 14,10 meter. Candi Hindu ini merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk. Hal ini terbukti dari adanya pahatan angka tahun 1293 saka (1371 M) di ambang pintu masuk candi.

Candi Pari bisa dibilang masih memiliki bentuk yang utuh, kaki dan badan candi masih ada hanya sebagain atap candi sudah tidak ada. Candi Pari minim sekali akan hiasan atau relief. Hiasan yang ada hanya miniatur candi yang menjorok keluar dari badan candi. Di atas miniatur candi ini terdapat hiasan berupa teratai. Di kanan – kiri miniatur candi ini terdapat lubang angin yang langsung tembus ke dalam bilik candi. Pada bagian atap candi sebenarnya ada hiasan binatang, namun sekarang sudah dalam kondisi yang aus.

Keunikan lainnya mengenai Candi Pari selain bentuknya yang tambun adalah tangga pintu masuk. Jika candi – candi lainnya memiliki tangga masuk yang langsung menuju bilik candi, maka hal ini tidak berlaku bagi Candi Pari. Untuk menuju bilik candi, sebelumnya akan ada  sebuah bidang persegi (batur) yang menjorok keluar dari bawah pintu candi (hal ini juga dapat dilihat di Candi Ngetos dan Candi Bangkal). Dikanan dan kiri batur tersebut terdapat tangga dengan pipi tangga (tempat pegangan) dalam kondisi yang telah  runtuh. Di beberapa sudut halaman candi juga terdapat reruntuhan batu bata, kemungkinan merupakan bekas pagar yang mengelilingi Candi Pari.

Di dalam bilik candi terdapat beberapa batu andesit, arca – arca dalam kondisi yang tak utuh serta beberapa balok kayu. Pada dinding bilik candi yang berhadapan dengan pintu masuk candi, terdapat sandaran arca dengan ukuran 6 x 6 meter. Mengingat besarnya sandaran arca, pasti besar pula arca yang menempati bilik Candi Pari ini. Namun, entah arca apa yang berada disana, mengingat arca tersebut tak pernah diketemukan.

Pemugaran

            Sudah banyak literature dan foto tentang Candi Pari sejak zaman Belanda. Salah satu diantaranya adalah N.J.Krom, yang menerbitkan bukunya Inlejding tot de Hindoe-Java asch Kunst  tahun 1923.


            Pada zaman kolonial belanda pula, Candi Pari pernah dipugar, pemugarannya antara lain memasang kayu pada bagian langit – langit pintu masuk. Pada tahun 1994-1999 Kanwil Depdikbud dan Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala Jawa Timur melakukan pemugaran kembali Candi Pari, dan tentunya dibantu oleh Pak Mustain, juru pelihara Candi Pari.

Legenda
            Masyarakat sekitar mengenal Candi Pari dan Candi Sumur sebagai Candi Lanang (Candi laki-laki) dan Candi Wadon (Candi Perempuan). Hal ini dikarenakan legenda tentang tokoh Joko Pandelegan.

            Alkisah, hiduplah Joko Walangtinuk dan Joko Pandelegan sahabatnya. Mereka berdua hidup di Desa Kedungtas dan membabat hutan untuk ditanam padi. Hasil panennya melimpah hingga Raja Hayam Wuruk mengirim orang kesana untuk meminta padi.
            Imbalannya, Joko Walangtinuk diangkat jadi pejabat di Keraton Majapahit. Joko Walangtunik setuju asalakan Joko Pandelegan juga boleh diajak. Namun, Joko Pandelegan beserta istrinya Nyi Roro Walang Angin menolak karena ingin tetap hidup di desa.
          Akhirnya, Joko Pandelegan masuk ke dalam lumbung, sedangkan Nyi Roro Walang Angin masuk ke dalam sumur. Mereka berduapun muksa disana. Untuk mengenangnya, Raja Hayam Wuruk membangun candi di tempat kedua orang itu menghilang. Candi – candi itu sekarang kita kenal dengan sebutan Candi Pari dan Candi Sumur.

            Sayangnya, selama hampir satu jam saya disana, saya tidak bertemu satupun juru pelihara candi, padahal Candi Pari memiliki 3 juru pelihara. Padahal juga sudah dihubungi Bu Maryati yang memiliki warung di depan Candi Pari (suaminya salah satu jupel). Katanya sih, suaminya sedang cari rumput. Tak ada sumber yang bisa ditanyai, apalagi tentang sejarah penemuan Candi Pari.

Candi Pari

            Bagaimanapun juga, Candi Pari sebenarnya sangat cocok dijadikan sebagai tempat rekreasi alternatif. Apalagi kalau wisatawan yang dari dan ke Bromo juga dibelokkan ke Candi Pari dan Candi Sumur setelah mereka mengunjungi Lumpur Panas Lapindo. Walaupun Candi Pari berada di lahan luas, memiliki taman yang tertata beserta kamar mandi, namun sangat jarang orang berkunjung kesini, apalagi kalau bukan musim liburan. O, Ya, jangan lupa juga berkunjung ke Candi Sumur yang berada 100 meter dari Candi Pari.

Sumber

CANDI PARI (Lumbung Padi Majapahit di Sidoarjo)


Candi Pari yang berdiri ditengah tengah desa Candi pari,Kecamatan Porong (15km arah selatan Sidoarjo)adalah satu-satunya candi peninggalan kerajaan Majapahit yang masih berpola utuh. berntuk sempurnanya berpola Candi Khmer (birma) dan Champa (Thailand).Hingga saat ini bentuk Candi Pari yang nyeleneh dari pola umum percandian Mojopahit itu belum ditemukan.Ciri khas pola bangunan candi Mojopahit selalu langsing pada bagian tubuh (tengah) dan trapesium pada bagian atap/mahkota dan selalu dibuat dari bahan batu emas.candi Pari yang dibuat oleh penguasa Mojopahit pada tahun 1293 Saka/1917 masehi ini berbentuk kubus,tanpa ada pembagian yang steorotif antar batur,tubuh dan mahkota.
Satu-satunya ciri Mojopahit hanyalah bahannya yang terbuat dari batu merah.Panjang Candi Pari ini 16,86 m,lebar 14,10 m dan tinggi 13,40 m sehingga terkesan pendek dan lebar.Sementara pola umum Candi Mojopahit selalu berorientasi vertikal.
Candi pari ini terdiri atas batur persegi empat,bagian barat menjorok keluar dengan undakan tangga pada sisi kanan-kiri menuju pintu masuk.Diatas pintu tertulis angka tahun pembuatan dan bagian dalam candi berupa ruang.
           
            Atap candi yang telah runtuh berbentuk amluntah,masih-masing dihias dengan sumber dan menara kecil.Pada tahap/mahkota inilah terletak ciri unik candi pari ini sebab bentuk mahkotanya sepenuhya memakai pola Kmer/Champa.tak ada penjelasan kenapa bentuk candi ini memakai bentuk bangunan negeri Champa walaupun ada bukti bahwa 2 kerajaan di Asia tenggara itu pernah menjalin hubungan dengan Mojopahit.Bahkan putri negeri itu yang beragama islam ada yang menjadi istri raja Mojopahit pada awal abad 15.Menurut penelitian yang dilakukan pada jaman Belanda,candi Pari merupakan candi utama dari sekian jumlah candi lain yang berada didalam satu komplek dengan pagar tembok,gapura,dan teras walaupun untuk bekas tembok yang mengurung komplek belum ditemukan tetapi laporan jaman Belanda itu agaknya tidak terlalu salah sebab di sebelah selatan candi pari berdiri sebuah candi dengan pola Mojopahit murni yang disebut candi sumur.Nama ini digunakan karena bagian dalam candi ada sebuah sumur yang saati ini telah mengering.Candi sumur ini rusak berat tinggal separuh dinding candi yang masih berdiri.Melihat jaraknya yang berdekatan,kemungkinan besar 2 candi itu merupakan satu kesatuan yang merupakan ciri percandian di Nusantara,dimana tidak ada sebuah candi yang berdiri sendiri.berbeda dengan temuanBalanda tentang fungsi candi pari yang disimpulkan sebagai tempat peribadatan,dalam masyaraka sekitar beredar cerita lisan (folklore) yang mengatakan bahwa didirikannya candi itu sebagai simbol kesuburan desa setempat dengan produksi padi (pari) yang melimpah dan mampu menyetorkan upeti kepada Raja Mojopahit.

Candi Sumur - Sidoarjo

Terletak di Dusun Candi Pari Wetan, Desa Candi Pari, Kecamatan Porong, Kabupaten
Sidoarjo, Jawa Timur. Dibandingkan dengan Candi Pari, Candi Sumur memiliki bentuk yang lebih sederhana.Candi dari bahan batu bata merah ini tidak memiliki ornamen atau hiasan apapun. Jikapun ada, kemugkinan sudah aus.


Candi Sumur hanya berada sekitar 100 meter di sebelah selatan Candi Pari. dan  bisa dilihat  dari kanan, maka akan  terlihat Candi Sumur berdiri dengan kokohnya.

Sejarah Bangunan
Candi Sumur berdenah bujur sangkar dengan ukuran 8 m x 8 m dan memiliki tinggi 10 meter. Candi Sumur menghadap ke barat dan menempati lahan seluas 315 m dan perada pada ketinggian 4,42 mdpl.

Seperti Candi Pari, Candi Sumur bisa dibilang agak utuh. Kaki, badan dan atap candi masih ada. Sayangnya, badan dan atap candi ini tinggal separuh. Agar tidak roboh, badan dan atap candi yang separuh ini disangga oleh tiang besi berlapis semen.

Bilik candi yang seharusnya berisi yoni dan lingga tampak kosong, yang ada hanya sebuah sumur sedalam kurang lebih 3 meter. Adanya sumur yang telah mengering ini merupakan asal muasal nama Candi Sumur. Saat melongok ke dalam sumuran candi, ada beberapa uang logam yang dilemparkan kedalam sumur. Entah apa maksud pelempar uang ini, lagian kalo diambil akan sulit karena dalamnya sumurnya dalam dan sempit.

Candi ini pernah dipugar pada tahun 1999 sampai 2003 oleh Proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Trowulan Jawa Timur. Hasil pemugaran pada tahun itulah yang menghasilkan bentuk candi seperti sekarang.diperkirakan candi ini didirikan sekitar abad XIV M dan latar belakang Agama Hindu. Candi ini pernah dipugar pada tahun 1999 sampai 2003 oleh Proyek Pemanfaatan Peninggalan Sejarah dan Purbakala Trowulan Jawa Timur.Candi Sumur diduga masih merupakan satu komplek dengan Candi Pari. Candi Sumur dibangun pada periode yang sama dan merupakan peninggalan Kerajaan Majapahit di bawah pimpinan Raja Hayam Wuruk. Beberapa orang menduga fungsi Candi Sumur sebagai tempat mengambil air guna keperluan upacara di Candi Pari.


Orkes Keroncong Delta Irama



Musik keroncong kian tergusur dari belantika musik tanah air. Kita makin sulit menemukan orkes keroncong yang eksis di Kabupaten Sidoarjo. Apalagi orkes keroncong yang diperkuat musisi muda.

Syukurlah, di Sidoarjo masih ada Orkes Keroncong Delta Irama yang berusaha melestarikan keroncong agar tidak sampai punas. Selama satu dasawarsa terakhir mereka aktif berlatih di kawasan Mayjen Sungkono Sidoarjo.

Menurut Teguh Wibowo, pemain cello yang juga koordinator, cikal-bakal orkes keroncong ini sebetulnya sudah ada puluhan tahun lalu. Waktu itu namanya OK Delta. Namun, karena sepi tanggapan dan kesibukan masing-masing anggota, orkes ini pun vakum. Baru pada 1999 Teguh menghidupkan lagi orkes ini dengan nama OK Delta Irama. "Beberapa pemain lama juga meninggal karena memang sudah sepuh," kata Teguh.

Saat vakum itulah Teguh dan beberapa penggemar keroncong berusaha melestarikan musik lawas ini dengan bermain bersama. Semacam jam session. Lama-kelamaan semua personel terisi layaknya sebuah orkes keroncong.

Selain Teguh yang main celloa, ada Heru (biola), Lanu (bas), Yudi (ukulele), Joko (saksofon), Agus (gitar). Vokalisnya cukup banyak karena banyak orang yang ingin menyanyi diiringi orkes keroncong. Mereka adalah Sri Retno, Endang, Utami, Hartini, dan Suroso.

Saat ini setiap Jumat malam para pemain OK Delta Irama berkumpul untuk latihan bersama. Bukan karena ada job atau tanggapan, tapi lebih karena hobi. "Yah, untuk silaturahmi sekaligus hiburan," kata Teguh.

Dia mengakui musik keroncong makin kehilangan peminat dalam 20 tahun terakhir. Orkes-orkes yang pernah ada di Sidoarjo bubar satu per satu. Kalaupun ada satu dua grup yang mencoba bertahan, tidak pernah ditanggap untuk mengisi hajatan-hajatan seperti perkawinan.

"Kita masih kumpul dan berlatih karena memang hobi saja. Tapi kalau ada orang yang mau nanggap ya silakan," kata pria 36 tahun ini.

Tak mudah mempertahankan keroncong di tengah masyarakat Sidoarjo yang gila dangdut dan pop. Namun, Teguh dkk tak putus asa. Mereka tetap berlati dan bermusik dengan gembira.

Sumber

Ludruk, kesenian asli jawa timur



Sebelum tahun 1990 begitu banyak grup ludruk yang bertebaran di jawa timur. Namun, perlahan-lahan satu per satu grup kesenian tradisional ini gulung tikar. Saat ini hanya ada beberapa gelintir ludruk yang masih bertahan dalam kondisi senen-kemis.

Menurut Prof Dr Henricus Supriyanto, pengamat ludruk, bubarnya grup-grup ludruk itu tak lepas dari masuknya televisi yang menawarkan hiburan ke rumah-rumah penduduk di kawasan pinggiran. Padahal. warga pinggiran itu dulu dikenal sebagai penonton ludruk yang setia.

"Sebelum ada televisi, orang kalau tidak nonton ludruk ya lihat wayang wong, wayang kulit, atau ketoprak," katanya.

Selain itu, menurut Henri, kebijakan Orde Baru yang represif dan antikritik membuat grup ludruk kehilangan daya tariknya. Lawakan-lawakan yang mengkritik kebijakan pemerintah dan ketimpangan sosial dilarang. Yang ada hanya kidungan tentang keberhasilan pembangunan atau pentingnya P4.

"Banyolan-banyolan ludruk sudah tidak menarik lagi. Orang jadi malas lihat ludruk," kata mantan dosen Unesa ini.

Kehilangan daya kritis ini, sambung dia, terbawa sampai sekarang. Kemampuan pelawak atau peludruk mengkritik kondisi di masyarakat seperti BBM sudah tak ada karena tidak menguasai materinya.

"Maka, pelawak ludruk hanya mampu menyajikan banyolan lawas. Banyolan seperti itu sudah sering dilihat penonton sehingga bosan dan meninggalkan ludruk," kata pria yang tekun meneliti ludruk di Jatim itu.

Pelawak memang tulang punggung sebuah grup ludruk. Begitu banyak kelompok ludruk yang gulung tikar setelah ditinggal pelawak andalannya. Ketika Basman memilih bergabung dengan Kartolo di Surabaya, Ludruk Warna Jaya Sidoarjo oleng. Ludruk Bintang Jaya juga kehilangan penggemar setelah ditinggal pelawak andalannya Momon, Agus Kuprit, dan Darmaji.

Masalahnya, tidak mudah menciptakan pelawak-pelawak baru yang berkualitas dan digemari penonton. "Lawakan harus bagus dan segar. Kalau cuma banyolan lawas thok, ya, penonton gak akan tertawa karena sudah tahu," kata Marliyah (57), pengurus grup ludruk di kawasan Balongbendo.

Meski grup ludruk di Kabupaten Sidoarjo makin sedikit, Marliyah dan kawan-kawan masih mampu menjaga eksistensi Karya Baru sampai saat ini. Grup ludruk ini kerap tampil di kawasan Balongbendo, Krian, Tarik, Prambon, hingga Mojokerto. Apa rahasia sukses Karya Baru?

Pertama, lawakan yang segar dan menghibur. Kedua, kostum, tema lawakan, maupun lakon harus diubah jika lokasi pementasan di radius lima kilometer dari lokasi pertunjukan terdahulu. Ketiga, menampilkan penri-penari cewek yang muda.

"Anak-anak itu paling kritis. Kalau lawakannya sudah pernah dilihat, mereka dengan spontan akan berteriak: banyolane pancet! Apa gak malu?" tukasnya.
Meski kondisi grup ludruk saat ini sudah jauh berbeda dengan era 1980-an,

Marliyah optimistis masih banyak warga Sidoarjo yang menggemari ludruk. Sebab, ludruk merupakan kesenian rakyat yang lahir dari masyarakat bawah yang selalu tertekan beratnya beban hidup. Ludruk membuat wong cilik bisa tertawa-tawa dan sejenak melupakan penderitaan hidupnya.

Masjid Cheng Hoo Surabaya

Masjid Cheng Hoo Surabaya


Wajah Masjid Cheng Hoo, Surabaya, menjelang bulan Ramadan 1434 Hijriah, atau 10 Juli 2013, sedikit berubah. Masjid berarsitektur Tionghoa di Jalang Gading 2 itu sudah dilengkapi kanopi untuk menghindari jamaah dari siraman air hujan dan panas matahari.

"Sekarang ini sudah masuk musim kemarau, tapi masih sering hujan. Jadi, kanopi itu bisa membantu jamaah melaksanakan ibadah salat tarawih dengan khusyuk," ujar Hasan Basri, office manager Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia.


Selama ini masjid yang telah berusia 10 tahun itu selalu memasang terop di halaman untuk menmpung banyaknya jamaah yang melaksanakan salat tarawih. Sistem bongkar pasang tenda ini kemudian dikritik oleh Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Risma meminta YHMCHI dan pengusaha Tionghoa untuk membuat kanopi yang permanen.


"Alhamdulillah, target para pengurus agar kanopinya bisa dimanfaatkan saat Ramadan bisa terpenuhi. Tapi pengerjaannya masih terus dilanjutkan karena belum selesai. Dananya malah masih kurang," ujar Hasan lantas tertawa kecil.


Ustad Haryono Ong menambahkan, pengurus Masjid Cheng Hoo, Surabaya, akan memulai salat tarawih dengan mengacu pada jadwal   dari Kementerian Agama RI. "Kami dari dulu mengikuti apa yang menjadi keputusan pemerintah, soal awal puasa, Idul Fitri, dan Idul Adha," kata Haryono.


Sejak pekan lalu pengurus masjid berusaha maksimal agar jamaah merasa nyaman saat beribadah salat tarawih. Berbagai sarana dan prasarana yang diperlukan disiapkan sebaik mungkin. "Yang paling berat memang pemasangan kanopi. Biaya yang dibutuhkan tidak sedikit," kata Ong.


Ong menjelaskan, masjid yang berdiri di lahan seluas 21 x 11 meter persegi dengan luas bangunan utama 11 x 9 meter persegi itu termasuk sangat kecil untuk ukuran Surabaya. Hanya memiliki daya tampung sekitar 300 orang. 


Karena itu, selama ini ratusan jamaah dari dalam dan luar kota beribadah di halaman masjid, yang juga lapangan basket. 


"Insya Allah, dengan adanya kanopi ini jamaah bisa lebih khusyuk," katanya. 

Kesenian wayang kulit di Jawa

Kesenian wayang kulit di Jawa



Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jawa Timur belum lama ini nanggap wayang kulit di halaman kantornya, Jalan Raya Tenggilis 1 Surabaya. Dalangnya Ki Anom Suroto dari Solo. Ternyata penonton membeludak.

Apa boleh buat, saya tak dapat tempat duduk di terop meski membawa surat undangan. Terpaksalah beta duduk lesehan bersama 20-an penoton lain di belakang kelir (layar).

Gayeng banget suasananya. Apalagi dagelan Cak Momon, Cak Tawar, Ning Susi cukup lucu meskipun ada beberapa banyolan lawas. Wayang kulit memang pertunjukan rakyat yang gayeng di tanah Jawa.

"Cak, koen lungguo!" penonton berteriak ketika ada orang yang berdiri sehingga menutup kelir. Hehehe... ketawa rame-rame.

Minggu lalu saya juga nonton wayang kulit dengan dalang Ki Enthus yang 'wuedan' itu. Tapi duduknya di dalam terop. Dari dulu memang duduk atau melihat dari punggungnya ki dalang. Baru kali ini saya melihat wayang lewat kelir alias tanpa melihat wajah dalang. Tanpa melihat pemain-pemain musik gamelan, sinden, pelawak, maupun penonton-penonton VIP.

Rupanya, menonton lesehan di belakang layar ini ternyata menjadi berkah tersendiri. Saya baru sadar bahwa keindahan gerak-gerik wayang kulit justru kita dapatkan di belakang layar. Bayangan wayang saat berperang, saling hantam, saling adu jurus sakti... justru terlihat sangat hidup di layar.

Dengan lampu yang temaran, karena memang tidak disediakan penerangan di balik layar, suasananya lebih asyik. Beda dengan menonton wayang kulit dari arah punggungnya Pak Dalang. Kita memang melihat wajah sinden-sinden yang ayu, tapi malam itu sindennya tua-tua, pelawak-pelawak, tapi sulit menikmati gerak-gerik wayang.

Menonton di balik layar ternyata benar-benar fokus. Pandangan mata kita hanya ke layar segi empat di bagian tengah yang ada wayangnya. Seni sabetan sang dalang dalam cerita Semar Mbangun Kayangan ini akan kelihatan di sini. Kita jadi tahu mana dalang yang hebat, mana yang sedang, mana yang maksa, justru di balik kelir.

"Sabetan Ki Manthep Soedarsono yang paling saya suka," kata seorang bapak asal Sidoarjo yang khusus datang ke Tenggilis untuk menonton wayang kulit dengan dalang Ki Anom Suroto.

"Ki Anom ini dalang paling populer di Indonesia saat ini bersama Ki Manthep. Saya usahakan menonton karena jarang sekali Ki Manthep dan Ki Anom main di Surabaya atau Sidoarjo."

Blessing in disguise. Tidak dapat tempat di terop, hanya bisa lesehan di belakang layar, ternyata membuat saya menemukan kenikmatan dalam menyaksikan pergelaran wayang kulit. Bahwa nonton wayang itu sebaiknya dari belakang layar, bukan duduk di terop sambil nyamilan, melihat begitu banyak karakter wayang yang ditancapkan di gedebog pisang.

Kata budayawan-budayawan Jawa, tempo doeloe memang wayang kulit itu ditonton dari belakang layar. Yang dilihat itu bayang-bayang para wayang yang digerakkan oleh ki dalang. Wajah sang dalang, sinden, pemain musik tak perlu dilihat. Fokus mata penonton hanya ke arah kelir atau layar putih.

Kemudian terjadi semacam revolusi budaya di tanah air. Maka, posisi penonton pun berubah. Saat ini hampir tidak ada lagi orang yang menonton wayang kulit di layar, kecuali terpaksa karena tidak mendapat tempat. Tak akan ada panitia yang menyediakan kursi di belakang layar, yang temaram.

Wayang kulit saat ini pun terlalu banyak disusupi aneka hiburan. Dagelan alias lawak, campursari, bahkan akhir pekan lalu Ki Soenarjo menghadirkan dangdut di halaman DPRD Jawa Timur. Duo Virgin malah menyanyikan lagu Kereta Malam. Porsi sabetan dan esensi wayang kulit malah menjadi berkurang drastis.

Selera orang berbeda-beda. Tapi, setelah menikmati pertunjukan wayang kulit di halaman KPU Jatim itu, ke depan saya akan berusaha menonton dari belakang kelir. Membayangkan keindahan seni wayang kulit ketika masih dimainkan dengan penerangan berupa blencong alias lampu minyak tanah, belum memakai lampu listrik yang terlalu terang itu

Sumber